Industri Dulu, SDM Menyusul: Kunci Mengatasi Stagnasi Teknologi Tinggi Indonesia

Bayangkan ini: Korea Selatan dulu miskin, tapi sekarang Samsung dan Hyundai jadi raksasa dunia. Taiwan kuasai pasar chip global lewat TSMC. Sementara Indonesia? Kita masih jualan bahan mentah seperti nikel atau sawit, padahal punya potensi besar.

Kenapa ya, stagnasi teknologi tinggi Indonesia ini kayak nggak kunjung berakhir? Banyak orang bilang kurang SDM berkualitas. Tapi benarkah begitu? Atau ada yang salah di pendekatan kita?

Artikel ini bakal bahas kenapa Indonesia susah naik ke level tech tinggi, dan kenapa konsep “industri dulu, SDM menyusul” bisa jadi solusi. Kita lihat data, contoh negara lain, dan apa yang lagi terjadi lewat hilirisasi. Siap-siap, ya – ini bakal bikin kamu mikir ulang soal masa depan ekonomi kita.

Kondisi Teknologi Tinggi di Indonesia Saat Ini: Masih Jauh dari Harapan

Indonesia punya ekonomi besar di ASEAN, tapi kalau bicara teknologi tinggi, kita masih tertinggal jauh. Ekspor high-tech kita cuma sebagian kecil dari total ekspor. Bandingkan dengan Malaysia yang jadi top 9 eksportir high-tech dunia, atau Vietnam yang lagi naik daun di elektronik.

Data World Bank nunjukin, high-tech exports Indonesia jauh di bawah negara tetangga. Kita lebih kuat di komoditas mentah, bukan produk inovatif seperti semikonduktor atau software canggih.

Pengeluaran R&D (research and development) kita juga rendah banget, cuma sekitar 0.2-0.3% dari GDP. Korea Selatan? Hampir 5%! Nggak heran kalau inovasi kita stagnan, dan kita terjebak di middle income trap – pendapatan menengah yang susah naik ke atas.

Research and Development: U.S. Trends and International …

Masalahnya, tanpa industri tech yang kuat, talenta kita banyak yang lari ke luar negeri. Diaspora Indonesia sukses di Silicon Valley, tapi di sini? Kesempatannya terbatas.

Mitos Kurang SDM: Bukan Penyebab Utama Stagnasi

Sering dengar keluhan “SDM Indonesia kurang kompetitif”? Padahal, kita punya jutaan lulusan universitas setiap tahun. Banyak engineer Indonesia yang kerja di perusahaan top dunia.

Masalahnya bukan kuantitas atau kualitas dasar SDM, tapi ekosistem. Kalau nggak ada industri yang butuh skill tinggi, ya talenta itu nggak berkembang di sini.

Bayangin seperti tanam bibit bagus di tanah gersang. Bibitnya oke, tapi nggak tumbuh maksimal. Industri tech tinggi butuh cluster – kumpulan perusahaan, supplier, dan riset yang saling dukung.

Di Indonesia, cluster seperti itu masih jarang. Kita lebih fokus bangun pendidikan dulu, harapannya SDM siap lalu industri datang sendiri. Tapi realitanya? Kebalik.

L.K. Group Welcome Polytechnic ATMI to Strengthen Indo-L.K. Ties …

Pelajaran dari Korea Selatan dan Taiwan: Industri Dulu yang Bikin SDM Naik Level

Lihat Korea Selatan di era 1960-1980an. Mereka nggak mulai dari pendidikan tinggi massal. Pemerintah dukung chaebol seperti Samsung buat industri berat dulu – baja, kapal, kimia.

Mereka pinjam teknologi dari luar, bangun pabrik besar, baru pelan-pelan inovasi sendiri. Hasilnya? SDM otomatis naik level karena ada demand dari industri.

Sekarang, Samsung jadi pemimpin chip dan smartphone dunia.

Taiwan mirip. Mereka fokus semikonduktor lewat TSMC. Pemerintah bikin cluster di Hsinchu Science Park, tarik FDI, transfer tech, lalu kembangkan lokal.

Sekarang Taiwan kuasai lebih dari 50% pasar foundry chip global. SDM mereka jadi top karena industri sudah jalan dulu.

Intinya: Industri dulu yang ciptakan lapangan kerja berkualitas, tarik talenta pulang, dan dorong inovasi. SDM menyusul secara alami.

Hilirisasi di Indonesia: Langkah Awal yang Menjanjikan

Indonesia lagi gencar hilirisasi, terutama nikel. Larang ekspor bijih mentah, paksa bangun smelter dan pabrik baterai di dalam negeri.

Hasilnya? Investasi miliaran dolar masuk, ribuan lapangan kerja baru, dan nilai tambah naik drastis. Kita mulai masuk rantai pasok EV global.

Ini mirip strategi Korea/Taiwan dulu. Bangun industri hilir dulu, baru naik ke tech lebih tinggi seperti baterai canggih atau komponen elektronik.

Tapi jangan berhenti di nikel. Kita bisa extend ke bauksit, tembaga, atau bahkan tech lain seperti renewable energy dan AI.

Apa yang Harus Dilakukan Selanjutnya Biar Nggak Stagnan Lagi?

Buat lepas dari stagnasi teknologi tinggi Indonesia, kita perlu strategi lebih agresif:

  • Dukung perusahaan nasional besar → Kasih insentif buat mereka masuk tech tinggi, seperti Korea dukung chaebol.
  • Tarik FDI strategis → Bukan cuma assembly, tapi yang bawa transfer teknologi.
  • Bangun cluster industri → Kawasan khusus untuk semikonduktor atau biotech, lengkap dengan universitas dan riset.
  • Repatriasi diaspora → Kasih kemudahan buat talenta Indonesia pulang bawa pengalaman.
  • Naikkan R&D secara bertahap → Mulai dari industri yang sudah ada, bukan dari nol.

Pemerintah, swasta, dan akademisi harus kolaborasi. Hilirisasi lagi jadi momentum – jangan sia-siakan.

Kesimpulan: Saatnya Ubah Mindset

Stagnasi teknologi tinggi Indonesia bukan nasib. Bukan juga murni karena SDM kurang. Yang kurang adalah ekosistem industri yang kuat.

Dengan pendekatan “industri dulu, SDM menyusul”, kita bisa ikuti jejak Korea dan Taiwan. Hilirisasi lagi jadi starting point bagus – tinggal gaspol ke level lebih tinggi.

Kalau kita konsisten, Indonesia Emas 2045 bukan mimpi. Kamu setuju nggak? Share pendapatmu di komentar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *