Mengapa Hanung Bramantyo Menolak Mengeksploitasi Kemiskinan di Film Children of Heaven

Pernah nggak sih kamu nonton film yang bikin hati terenyuh, tapi malah merasa “dikasihani” berlebihan? Itu salah satu hal yang bikin Hanung Bramantyo ogah banget saat menggarap remake Children of Heaven versi Indonesia. Film klasik Iran karya Majid Majidi ini memang legendaris karena ceritanya yang sederhana tapi dalam: dua kakak-adik yang berjuang berbagi sepatu karena keluarga mereka hidup kekurangan.

Nah, sekarang Hanung Bramantyo membawanya ke layar lebar Indonesia dengan setting di Semarang, dan dia punya pendirian kuat soal ini. Dia nggak mau filmnya jadi alat untuk “mengemis” simpati penonton lewat kemiskinan. Justru sebaliknya, dia ingin menonjolkan martabat manusia, kekuatan keluarga, dan semangat juang anak-anak di tengah keterbatasan.

Kenapa sih Hanung punya prinsip begini? Yuk, kita bahas lebih dalam.

Latar Belakang Film Children of Heaven Versi Indonesia

Sebelum masuk ke alasan utamanya, penting kita pahami dulu konteksnya. Children of Heaven original (1997) adalah film Iran yang sampai masuk nominasi Oscar. Ceritanya tentang Ali dan Zahra, saudara kandung yang hidup miskin. Ali secara nggak sengaja kehilangan sepatu adiknya yang baru diperbaiki, dan karena orang tua mereka nggak mampu beli baru, mereka pun bergantian pakai satu sepatu yang sama untuk sekolah.

Film itu indah karena nggak lebay menampilkan kemiskinan. Majid Majidi, sutradaranya, fokus ke kehangatan keluarga dan kepolosan anak-anak, bukan pada “drama miskin” yang bikin penonton kasihan.

Sekarang, MD Pictures mengadaptasinya ke Indonesia, disutradarai Hanung Bramantyo, dan rencananya tayang 2026 (tepatnya sekitar libur Idul Adha). Lokasinya dipindah ke Semarang, biar lebih dekat dengan nuansa lokal kita. Pemeran utamanya anak-anak seperti Jared Ali dan Humaira Jahra, plus aktor senior macam Slamet Rahardjo dan Dodit Mulyanto.

Hanung sendiri sempat “pecah sumpah” karena dulu dia ogah bikin film anak lagi—alasannya industri film kita kurang ramah sama jam kerja anak. Tapi untuk proyek ini, dia luluh dengan syarat tertentu, termasuk nggak mengeksploitasi elemen kemiskinan.

Alasan Utama Hanung Bramantyo Ogah Eksploitasi Kemiskinan

Dalam beberapa wawancara dan press conference terbaru, Hanung blak-blakan bilang:

“Ini bukan eksploitasi kemiskinan, ini murni menunjukkan martabat kita sebagai manusia. Indonesia dalam keadaan kekurangan, kemiskinan ada di mana-mana, tapi kita tidak boleh ngemis.”

Kalimat itu powerful banget. Dia nggak mau penonton cuma terjebak rasa iba, lalu berhenti di situ. Malah, dia ingin kita lihat daya juang anak-anak yang dipaksa dewasa lebih cepat karena keadaan. Kemiskinan digambarkan sebagai latar belakang, bukan alat utama untuk memancing air mata.

Hanung mengikuti jejak Majid Majidi yang memang anti-eksploitasi kesedihan. Dalam film aslinya, kemiskinan ditampilkan secara halus—lewat sepatu rusak, rumah sederhana, tapi cerita utamanya tentang kasih sayang saudara, kejujuran, dan harapan kecil yang besar maknanya.

Di versi Indonesia ini, Hanung menekankan hal yang sama. Dia bilang film ini soal martabat keluarga, bukan soal “lihat betapa miskinnya mereka”. Dia ingin penonton pulang dari bioskop dengan perasaan terinspirasi, bukan cuma sedih atau kasihan.

Bayangkan kalau filmnya malah zoom-in terus ke lubang-lubang di atap rumah, baju compang-camping, atau anak nangis kelaparan berlebihan—itu bisa jadi eksploitasi. Hanung menolak pendekatan itu karena menurutnya, itu justru merendahkan martabat karakter dan penonton.

Mengapa Pendekatan Ini Penting di Industri Film Indonesia

Di Indonesia, banyak film yang pakai kemiskinan sebagai “bumbu” utama untuk bikin penonton nangis bombay. Kadang malah over, sampai terasa dipaksa. Hasilnya? Penonton merasa “dikasihani” atau malah muak karena terlalu dramatis.

Hanung ingin ubah itu. Lewat Children of Heaven, dia kasih contoh bahwa cerita tentang keterbatasan bisa tetap menyentuh tanpa harus jadi “penderitaan pornografi”. Fokusnya ke hal-hal kecil yang indah: senyum kakak-adik saat berbagi sepatu, lari-lari Zahra biar kakaknya nggak telat sekolah, atau semangat Ali ikut lomba lari demi menang sepatu baru.

Ini juga sejalan dengan kritiknya soal eksploitasi anak di industri film. Hanung pastikan proses syuting ramah anak—nggak ada jam kerja berlebihan, ada pendampingan psikologis, dan lingkungan yang mendukung. Dia ingin film ini jadi contoh produksi sehat, bukan cuma soal cerita tapi juga behind the scenes.

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Sikap Hanung Ini?

Sebagai penikmat film, sikap Hanung ini mengingatkan kita bahwa sinema punya kekuatan besar untuk mengangkat isu sosial tanpa harus menjatuhkan martabat orang. Kemiskinan memang realita di banyak keluarga Indonesia, tapi cara kita menceritakannya menentukan apakah kita memberdayakan atau malah mempermalukan.

Hanung Bramantyo ogah eksploitasi kemiskinan di Children of Heaven karena dia percaya:

  • Cerita bagus nggak perlu lebay drama.
  • Martabat manusia lebih penting daripada air mata murahan.
  • Film bisa menginspirasi perubahan dengan menunjukkan kekuatan, bukan kelemahan.

Kalau kamu penggemar film keluarga yang hangat dan bermakna, film ini patut ditunggu. Estimasi tayang 2026, dan dari trailer awal, nuansa lokalnya terasa pas tanpa kehilangan esensi asli.

Kamu setuju nggak sama pendekatan Hanung? Atau kamu lebih suka film yang “nangis bombay”? Share pendapatmu di kolom komentar ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *