Mengapa Kerja Keras Tak Kunjung Bikin Kaya? Ini Penjelasan Sosiolog yang Bikin Kita Mikir

Pernah nggak sih kamu merasa sudah mati-matian kerja, bangun pagi buta, pulang malam, lembur sana-sini, bahkan sambil side hustle, tapi kok tabungan nggak kunjung tebal? Tagihan numpuk, harga kebutuhan naik terus, dan mimpi punya rumah atau liburan impian masih jauh di awang-awang. Kamu bukan sendiri. Banyak orang di sekitar kita, terutama di kota besar, mengalami hal yang sama: bekerja keras tapi tak kunjung kaya.

Fenomena ini bukan cuma nasib sial pribadi, tapi masalah sosial yang lebih dalam. Menurut sosiolog, ada faktor struktural yang membuat kerja keras saja nggak cukup untuk naik kelas. Baru-baru ini, Sosiolog dari Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir, angkat bicara soal ini. Dia bilang, ini bukan karena kita kurang usaha, tapi sistem di sekitar kita yang seringkali nggak mendukung. Yuk, kita bahas satu per satu apa kata ahlinya, biar kita paham kenapa mengapa kerja keras tak kunjung bikin kaya sering jadi kenyataan pahit.

Fenomena “Working Poor” yang Semakin Nyata

Di Indonesia, istilah working poor atau pekerja miskin lagi sering dibahas. Artinya, orang yang sudah bekerja full time, bahkan lebih, tapi penghasilannya cuma cukup buat makan sehari-hari, nggak ada sisa buat nabung atau investasi.

Contoh nyata: driver ojol yang kerja 14 jam sehari, atau karyawan kantor yang lembur tiap hari tapi gaji pas-pasan. Ini bukan cerita langka. Biaya hidup di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya naik gila-gilaan—harga beras, bensin, kontrakan, semuanya melonjak—tapi gaji? Masih segitu-gitu aja.

Sry Lestari Samosir bilang, ini bukan masalah individu doang. “Ini merupakan fenomena global juga, bukan hanya di Indonesia saja. Banyak masyarakat yang kerja sudah banting tulang tapi tidak sejahtera, bahkan untuk bertahan hari ini saja,” katanya. Jadi, kalau kamu merasa capek sendiri, tenang—ini sistem yang lagi mainin peran besar.

Alasan 1: Kebijakan Ekonomi yang Lebih Berpihak ke Elit

Salah satu penyebab utama kenapa kerja keras tak kunjung bikin kaya adalah ketimpangan di level kebijakan. Menurut Sry, banyak kebijakan ekonomi kita cenderung neoliberal—artinya, lebih memihak korporasi besar dan kelompok elit daripada pekerja biasa.

Bayangin aja: upah minimum regional (UMR) atau upah minimum provinsi (UMP) naiknya cuma sedikit setiap tahun, tapi harga kebutuhan pokok? Naiknya bisa dua digit. “Kesejahteraan masyarakat sering dibelakangkan, bisa dilihat dari kebijakan UMR dan UMP kita yang saat ini masih segitu-segitu saja, tapi tidak sebanding dengan kebutuhan biaya hidup,” ujar Sry.

Hasilnya? Nilai tambah dari kerja keras kita lebih banyak mengalir ke pemilik modal, sementara pekerja cuma dapat “remah-remah”. Di sini, kerja kerasmu memang bikin perusahaan untung besar, tapi buat dompet pribadi? Belum tentu ikut gemuk. Ini yang bikin jurang kaya-miskin semakin lebar.

Contoh Nyata di Kehidupan Sehari-hari

Kamu kerja di pabrik atau perusahaan besar, produksi naik, profit perusahaan melonjak—tapi bonus atau kenaikan gaji? Minim. Sementara itu, harga rumah atau apartemen naik berkali-kali lipat. Sulit banget buat naik kelas kalau dasarnya aja sudah timpang.

Alasan 2: Normalisasi Kerja Berlebih dan Beban Mental yang Berat

Kerja lembur sampai malam, double job, atau nggak punya waktu buat keluarga—ini sudah jadi hal biasa, kan? Bahkan sering dipuji sebagai “dedikasi tinggi”. Tapi menurut sosiolog, ini justru jebakan.

Sry bilang, ketika upah nggak cukup, beban disalahkan ke individu. Kita merasa “kurang usaha” kalau belum kaya, padahal sistemnya yang bermasalah. “Akibatnya banyak masyarakat yang merasa bersalah, tidak bekerja dengan baik, harus double job, dan lembur sampai malam. Kondisi ini jadi masalah pribadi yang menyebabkan stres dan depresi,” jelasnya.

Istilah “budak korporat” atau “budak modern” muncul bukan tanpa alasan. Kita terkungkung dalam siklus: kerja lebih keras buat nutup kebutuhan, tapi nggak pernah cukup buat maju. Akhirnya, kesehatan mental ambruk, burn out datang, dan produktivitas malah turun.

Dampak Psikologis yang Sering Diabaikan

Bayangin tiap hari pulang capek, tapi besok tagihan datang lagi. Rasa cemas, stres, bahkan depresi jadi teman sehari-hari. Banyak orang akhirnya nyerah dan terima nasib, padahal ini seharusnya jadi alarm buat perubahan lebih besar.

Alasan 3: Kurangnya Kesadaran dan Solidaritas Kolektif

Kenapa eksploitasi ini bisa berlangsung lama? Karena kita sering melihat masalah ini sebagai urusan pribadi, bukan bersama. Sry menekankan, “Kesadaran kolektif ini yang perlu kita pupuk supaya solidaritas para buruh semakin kuat dan bisa menuntut kebijakan yang lebih berpihak kepada kita.”

Kalau pekerja bersatu—misalnya lewat serikat buruh yang kuat—daya tawar bakal lebih besar. Tapi realitasnya, banyak yang takut speak up karena khawatir di-PHK. Akibatnya, kebijakan yang nggak adil terus berjalan, dan pekerja tetap terjebak.

Apa yang Bisa Kita Lakukan di Level Individu?

Meski struktural, mulai dari kecil bisa membantu. Gabung komunitas pekerja, diskusi bareng teman kantor, atau ikut gerakan yang menuntut upah layak. Solidaritas kecil-kecilan bisa jadi awal perubahan besar.

Alasan 4: Meritokrasi Hanya Mitos di Banyak Tempat

Banyak yang bilang, “Kerja keras dan pintar pasti naik jabatan.” Tapi sosiolog lain, Nia Elvina, bilang merit system—sistem di mana orang naik berdasarkan kemampuan—belum benar-benar jalan.

Seringkali, koneksi, latar belakang keluarga, atau kemampuan “jualan diri” lebih menentukan daripada hasil kerja. “Sehingga kelas pekerja yang sungguh-sungguh tadi, yang tidak punya koneksi, finansial dan kemampuan mempersuasi pimpinan, akan mengalami kesulitan untuk naik jabatan, gaji dan sebagainya,” katanya.

Jadi, meski kamu performa terbaik, kalau nggak punya “orang dalam”, peluang naik terbatas. Ini yang bikin mobilitas sosial terasa sulit, apalagi di ekonomi yang lagi sulit.

Kerja Keras Masih Bisa Naikkan Kelas Sosial Nggak Sih?

Menurut Sry, di situasi sekarang, kerja keras lebih sering cuma buat bertahan, bukan naik kelas. “Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Lagi-lagi karena memang sistem tidak mendukung kita untuk keluar dari lingkaran itu.”

Tapi bukan berarti nggak ada harapan. Dengan pendidikan lebih baik, skill yang terus diasah, dan kesadaran kolektif, peluang masih ada—meski butuh perjuangan ekstra.

Intinya, mengapa kerja keras tak kunjung bikin kaya bukan karena kita malas atau kurang usaha. Ada faktor struktural besar yang main di belakang layar: kebijakan, budaya kerja, dan sistem yang timpang. Memahami ini bisa jadi langkah awal buat kita nggak cuma menyalahkan diri sendiri, tapi mulai mencari solusi bareng.

Kalau kamu merasakan hal yang sama, share pengalamanmu di komentar ya. Siapa tahu, dari obrolan kecil ini, kita bisa saling menguatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *